Universitas Gadjah Mada Kanal Pengetahuan Fakultas Biologi
  • Home
  • Kuliah Tamu

Coral Triangle: Potensi dan masa depan Terumbu Karang Indonesia.

  • Kuliah Tamu
  • 4 September 2017, 10.11
  • By : Admin

Ketika berbicara mengenai kekayaan laut Indonesia, pada umumnya orang akan berfikir akan melimpahnya jumlah dan jenis ikan. Namun, terlepas dari hal itu, laut Indonesia juga kaya akan terumbu karangnya. Sebagian dari Indonesia, terutama Indonesia bagian timur, termasuk kedalam segitiga terumbu karang atau yang disebut juga dengan Coral Triangle (CT).

Mengetahui akan potensi keanekaragaman sumberdaya laut Indonesia, beberapa peneliti dari sebuah lembaga penelitian Belanda, Naturalis Biodiversity Center, datang dan memberi pemaparan pada hari Rabu (17/5) di Ruang Sidang Atas, Fakultas Biologi UGM dihadapan dosen, mahasiswa S1 dan S2. Meski peneliti dari Naturalis telah melakukan ekspedisi sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, masih banyak sekali jenis terumbu karang yang belum terungkap.

“Kita bahkan tidak tahu, berapa banyak jumlah pasti terumbu karang yang Indonesia miliki”, ucap pembicara pertama pada kuliah umum, Dr. Bert W. Hoeksema, yang juga merupakan peneliti senior dalam bidang sistematika dan taksonomi kelautan.

Bert juga memaparkan akan peranan penting terumbu karang, yaitu sebagai habitat, tempat berlindung bagi organisme lain dan sumber makanan. Pembicara kedua, Nicole de Voogd, juga menyampaikan bahwa bunga karang atau sponge yang juga hidup di terumbu karang juga memiliki potensi sebagai sumber bahan kimia alami yang bisa digunakan sebagai obat-obatan.

“Bunga karang yang merupakan organisme kunci dalam ekosistem laut juga berperan sebagai filter alami yang mampu menyaring virus dan bakteri” tambah Nicole.

Masih berkaitan dengan bunga karang, pembicara ketiga, Dr. Willem Renema, memaparkan bahwa dalam sejarah panjangnya, pusat hotspot keanekaragaman terumbu karang terus bergeser dan kondisi lingkungan banyak berperan dalam proses ini.

Sayangnya, kekayaan sumberdaya terumbu karang Indonesia kini sedang dalam kondisi yang terancam. Pemanasan global, aktifitas nelayan yang sering kali tidak terkontrol dan tidak ramah lingkungan, urbanisasi dan proses sedimentasi telah banyak merusak terumbu karang baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini terus berjalan dan jika tidak ditangani, bukan tidak mungkin Indonesia akan kehilangan kekayaannya sendiri.

“Sebagai saintis, yang perlu kita lakukan adalah melakukan eksplorasi untuk mengetahui apa yang kita miliki sehingga kita bisa melakukan tindakan konservasi”, saran Bert.

Tags: Coral Triangle Indonesia Terumbu Karang

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Posts

Dekan College of Science ANU Sampaikan Kuliah Tamu Tentang Drug Resistance di Fakultas Biologi UGM

Kuliah Tamu Monday, 1 October 2018

Obat-obatan, antibiotik dan resitensi merupakan hal yang sangat umum di dunia farmasetikal. Hal ini berkaitan dengan kemampuan mikroorganisme dalam beradaptasi setelah terpapar antibiotik atau obat-obatan dalam dosis yang non-letal.

Penutupan Biophoria #8 dimeriahkan oleh The Dean 1621, VOC, Saxx Jogja dan Illona and The Soul Project

Berita MahasiswaMinat dan Kreativitas Mahasiswa Thursday, 28 September 2017

Biophoria jilid 8 merupakan salah satu program kerja dari Departemen Minat dan Bakat, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Biologi UGM yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan kembali minat dan bakat mahasiswa Fakultas Biologi UGM, khususnya di […].

Anomali Iklim dan Ancaman Ketahanan Pangan

Menara Ilmu Monday, 4 September 2017

Menanggapi artikel Rudi Wahyono di Jawa Pos pada 7 Maret 2017, ada beberapa hal menarik yang penting untuk digarisbawahi. Pertama-tama, fenomena anomali iklim La Nina memang harus dilihat sebagai bagian dari rangkaian El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan bukan berdiri sendiri.

Ikan Sidat: Komoditas Menjanjikan dan Upaya Konservasi

Kuliah Tamu Monday, 4 September 2017

Di Indonesia, ikan sidat mungkin masih terdengar asing dibandingkan sumberdaya perikanan lainnya. Namun, di negeri matahari terbit, Jepang, sidat merupakan salah satu ikan yang mewah karena harga belinya yang tinggi..
Universitas Gadjah Mada

© Universitas Gajah Mada