Posts

Perpaduan Masyarakat dan Akademisi dalam konservasi anggrek berbasis ESD di Dusun Banyunganti, Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kulon Progo, D.I Yogyakarta

Anggrek adalah tanaman hias yang sangat diminati oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomi tinggi, akan tetapi belum banyak yang dapat membudidayakanya. Hal inilah yang medorong Tim dosen dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) khususnya Fakultas Biologi dan Fakultas Pertanian yang diketuai Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. yang tergabung dalam Tim ‘Hibah Pengabdian kepada masyarakat berbasis ESD’ untuk melakukan sosialisasi serta pelatihan tentang budidaya anggrek kepada masyarakat di Dusun Banyunganti, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi D.I.Yogyakarta yang bertempat di rumah Bapak Sutarman Kepala Dusun Banyunganti pada  hari Jum’at 5 Mei 2017 dan hari Rabu 24 Mei 2017.

Kegiatan yang dilakukan di Dusun Banyunganti berjudul “Pemberdayaan Masyarakat Dusun Banyunganti, Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, D.I.Yogyakarta Sebagai Usaha Konservasi Anggrek Alam Secara in situ dan ex situ berbasis Education for Sustainable Development (ESD)‘’.  Kegiatan sosialisasi dan pelatihan dibuka oleh Ibu Dr. Endang Semiarti sebagai pakar atau ahli di bidang anggrek dengan memberikan penjelasan mengenai budidaya anggrek secara konvensional. Selanjutnya dilakukan praktek budidaya secara konvensional oleh masyarakat dusun Banyunganti yang didampingi oleh mahasiswa Fakultas Biologi UGM yang tergabung dalam Kelompok Biology Orchid Study Club (BiOSC). Kegiatan yang dilakukan tidak hanya sebatas pada pelatihan budidaya secara konvensional namun juga akan dilakukan pelatihan budidaya secara in vitro skala rumah tangga, pelatihan kewirusahaan dan pelatihan IT untuk pembuatan website ekowisata anggrek Dusun Banyunganti.

Kegiatan ini dilatarbelakangi dengan adanya potensi yang sangat besar di kawasan Dusun Banyunganti, Desa Jatimulyo yang belum dikembangkan yaitu, banyaknya tanaman anggrek yang secara alami tumbuh liar di pekarangan penduduk maupun di hutan. Masyarakat tidak menyadari bahwa anggrek-anggrek tersebut merupakan plasma nutfah yang sangat berharga bagi daerahnya dan beberapa diantaranya memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sehingga tanaman anggrek tersebut harus dijaga keberadaannya jangan sampai punah. Beberapa tanaman anggrek yang bernilai ekonomi tinggi dapat dibudidayakan untuk menambah pendapatan (income) keluarga. Selama ini masyarakat menganggap beberapa tanaman anggrek disekitar mereka hanyalah tanaman liar, dan tidak memiliki nilai ekonomi. Bahkan kawasan Kulon Progo memilki anggrek khas yang belum diketahui oleh masyarakat, yaitu jenis anggrek Dendrobium capra dan Coelogyne speciosa. Hal ini menjadi suatu alasan yang sangat penting untuk memasyarakatkan anggrek-anggrek Kulon Progo di daerah (habitat) aslinya. Kondisi masyarakat yang umumnya petani, sangat mendukung keberhasilan realisasi pembudidayaan anggrek dikarenakan masyarakat sudah terbiasa dengan budidaya tanaman. Kemudian latar belakang lainnya, dalam mendukung program pemerintah daerah untuk membangun bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di kawasan Kulon Progo, pengembangan kawasan banyunganti sebagai tempat budidaya anggrek diharapkan bisa menjadi destinasi wisata. Sebab, dengan adanya bandara didaerah tersebut akan mempermudah mobilitas dengan akses jalan yang semakin baik dan dekat dengan pusat kota.

Kegiatan sosialiasi budidaya tanaman anggrek kepada masyarakat tersebut sebelumnya sudah mendapat respon yang positif dari banyak instansi. Beberapa instansi diantaranya seperti  Pemerintahan Desa Banyunganti, Dinas Pariwisata Kulon Progo, Perhutani, Pokdarwis, Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Provinsi DIY, Fakultas Biologi UGM, serta Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini didanai oleh Universitas Gadjah Mada dengan hibah program Implementasi ESD dalam masyarakat bertema Konservasi Biodiversitas dengan kategori ESD Masyarakat tahun 2017 yang dikelola oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM. Sutarman-Kepala Dusun Banyunganti mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan diharapkan mampu meningkatkan kreativitas dan keindahan di dusun banyunganti.

Kerja sama yang telah terjalin dengan baik antar semua pihak dalam kegiatan ini semoga dapat terus berlanjut dan berkembang. Sehingga impian untuk menjadikan kawasan Banyunganti menjadi Sentra Tanaman Anggrek di Kabupaten Kulon Progo dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sebelumnya belum pernah ada dapat terwujud dan UGM sebagai center of excellence (CoE) Anggrek akan terus mendukung keberlanjutan dari program ini. [MFSidiq/BiOSC].